LENSA, MAKASSAR – Antrean kendaraan truk, bus, dan mobil lainnya pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kota Makassar masih berlangsung hingga sekarang. Pemandangan ini sudah berlangsung hampir dua bulan terakhir.
Banyaknya kendaraan yang mengular dan parkir hingga ke badan jalan menunggu giliran masuk ke SPBU-SPBU mengisi BBM mengakibatkan aktivitas masyarakat ikut tergantung. Selain menimbulkan kemacetan, juga berdampak ke para pelaku usaha di sekitar SPBU dikarenakan jalan masuk ke lokasi usahanya terhalang oleh kendaraan yang mengantre.
Di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan misalnya, di wilayah Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea. Beberapa pelaku usaha di sekitar SPBU bahkan sudah memasang plang atau papan larangan parkir. Belum lagi pemandangan kemacetan yang biasa berlangsung hingga malam dikarenakan badan jalan jadi sempit karena mobil besar seperti truk dan bus mengambil sebagian bahu jalan untuk parkir.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah segera mencari solusi atas persoalan kelangkaan atau keterbatasan pasokan solar. Mereka juga mendesak aparat kepolisian mengusut penyebab utama panjangnya antrean, termasuk jika terdapat dugaan permainan dalam distribusi BBM bersubsidi tersebut.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, saat diwawancara mengatakan pihaknya tidak akan tinggal diam menyikapi persoalan antrean solar yang terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Kota Makassar.
Ia menyebut, penyelidikan akan dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel guna mengetahui penyebab terjadinya antrean panjang tersebut, termasuk kemungkinan adanya praktik mafia BBM.
“Terkait langkahnya BBM, tentu kita tidak akan diam. Itu nanti dari Krimsus akan tetap melakukan penyelidikan,” kata Didik saat diwawancara di Mapolda Sulsel, Senin (7/9/20226) sore.
Menurutnya, polisi masih akan mendalami apakah antrean panjang tersebut murni disebabkan persoalan pasokan atau terdapat penyimpangan dalam distribusi BBM.
Kata Didik, jika dalam proses penyelidikan ditemukan adanya dugaan mafia atau pelanggaran hukum, maka Polda Sulsel dipastikan akan menindaklanjutinya.
“Apakah itu ada mafia atau tidak ada mafia, nanti akan kita sampaikan kembali. Yang jelas, Polda akan tetap melakukan kegiatan untuk penyelidikan. Kalau memang ada, pasti kita tindaklanjuti,” tegasnya.
Didik juga mengatakan, hasil monitoring sementara di lapangan belum dapat disampaikan secara lengkap karena penyelidikan masih berjalan. Termasuk kondisi antrean di SPBU-SPBU, dan salah satunya di depan Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, yang turut memicu kemacetan hingga malam hari.
“Nanti saya akan tanya kembali (unit terkait di Polda Sulsel) karena ini kan sifatnya doorstop. Kecuali kalau sudah kita rilis, pasti kita akan sampaikan bahan (data) lengkapnya,” ujarnya.
Ia menegaskan Polda Sulsel berkomitmen menindak setiap bentuk penyimpangan apabila ditemukan dalam distribusi BBM, khususnya solar.
Tidak hanya dugaan mafia BBM, Didik bilang, kepolisian juga akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan akar persoalan kelangkaan tersebut.
“Kalau memang itu ada penyimpangan dan juga ada mafia dari BBM, terutama solar, pasti kita tindaklanjuti secara hukum. Jadi tidak akan kita tolerir,” ungkapnya.
Koordinasi nantinya akan melibatkan sejumlah pihak terkait, termasuk Pertamina dan pengelola SPBU. Didik mengatakan, langkah tersebut penting untuk mengetahui alur distribusi BBM hingga ke tingkat SPBU serta memastikan tidak ada penyimpangan dalam proses penyalurannya.
“Nanti semua pihak akan kita koordinasikan, apakah itu Pertamina, SPBU dan lain sebagainya. Nanti akan dikoordinasi oleh Krimsus,” jelasnya.
Selain persoalan solar, Polda Sulsel juga akan mencermati informasi mengenai mulai sulitnya mendapatkan Liquefied Petroleum Gas atau LPG di sejumlah wilayah di Sulsel. Menurut Didik, persoalan distribusi energi akan ditangani secara menyeluruh dengan melibatkan pihak-pihak terkait.
“Makanya nanti termasuk semua permasalahan, baik itu BBM, nanti LPG, dari Krimsus akan berkoordinasi dengan semua pihak yang terkait dengan kelangkaan tersebut,” katanya.
Sementara terkait informasi yang menyebut distribusi BBM jenis solar dari Makassar sebagian besar mengarah ke wilayah Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, untuk kebutuhan pertambangan, Didik belum berani menyimpulkan. Ia menegaskan informasi itu masih perlu didalami melalui proses penyelidikan.
“Nanti akan kita lakukan penyelidikan,” pungkasnya. (*)
Comment