Tiga Bulan Beroperasi, Pete-Pete Laut Makassar Evaluasi Rute dan Ajukan Penambahan Anggaran BBM

Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Rheza.

LENSA, MAKASSAR – Tiga bulan lebih pasca soft launching, layanan Pete-Pete Laut Pemerintah Kota Makassar masih terus beroperasi melayani mobilitas warga antarpulau.

Meski sempat terhenti sekitar tiga pekan akibat kerusakan mesin, armada tersebut kini kembali berlayar.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muhammad Rheza, mengatakan operasional Pete-Pete Laut secara umum berjalan lancar. Gangguan sempat terjadi akibat kerusakan pada bagian baling-baling yang dikenal dengan istilah “kepala babi”.

“Alhamdulillah jalan, jalan semua ji. Sempat tiga minggu tidak jalan karena rusak kepala babi. Itu sudah kita perbaiki dan sekarang beroperasi kembali,” ujar Rheza saat dikonfirmasi Senin (28/09/2026).

Menurutnya, tingkat pemanfaatan Pete-Pete Laut paling terlihat setiap Senin pagi. Mayoritas penumpang berasal dari kalangan pegawai yang bekerja di wilayah kepulauan, mulai tenaga kesehatan, guru, pegawai kecamatan hingga kelurahan.

Sementara warga umum belum menjadi pengguna dominan. Rheza menyebut, pernah ada sekitar lima warga yang menggunakan layanan tersebut sekadar untuk menikmati perjalanan laut.

“Setiap Senin itu selalu dipenuhi pegawai-pegawai yang bekerja di sana. Ada tenaga kesehatan, guru, pegawai kecamatan dan kelurahan, termasuk camat,” katanya.

Dari sisi rute, layanan awalnya dirancang hingga Pulau Lanjukang. Namun, dalam praktiknya perjalanan saat ini lebih banyak berhenti di Pulau Lumu-Lumu. Minimnya peminat menuju Lanjukang menjadi salah satu pertimbangan.

Rheza mengatakan masyarakat kepulauan cenderung membutuhkan transportasi sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan jadwal tetap. Kondisi itu menjadi tantangan karena Pete-Pete Laut tidak bisa beroperasi seperti angkutan darat yang dapat bergerak setiap saat.

“Warga maunya setiap saat ready, seperti angkutan mondar-mandir. Sementara kapal kayu tidak cepat dan jumlah penumpangnya juga tidak selalu sama,” jelasnya.

Karena itu, Dishub Makassar mulai mengevaluasi kemungkinan perubahan rute dengan menjadikan Pulau Barrang Caddi sebagai salah satu tujuan. Kawasan tersebut dinilai memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, demikian pula Kodingareng dan Barrang Lompo.

Uji coba ke Barrang Caddi bahkan mulai disiapkan. Namun, pada percobaan awal belum ada penumpang yang memanfaatkan layanan tersebut.

Dishub juga telah menyosialisasikan jadwal melalui masjid-masjid di wilayah kepulauan dan menyampaikan informasi kepada warga di dermaga Barrang Lompo.

“Kalau tingkat minatnya tinggi, akan kita rutinkan. Ini kan masih soft launching, sambil kita pelajari bagaimana minat masyarakat,” tutur Rheza.

Di sisi anggaran, Pemkot Makassar juga mengusulkan tambahan biaya bahan bakar minyak (BBM) dalam APBD Perubahan. Kenaikan harga Solar Dex disebut cukup membebani operasional karena armada pemerintah harus menggunakan BBM nonsubsidi.

Rheza menyebut harga Solar Dex sempat mencapai sekitar Rp26 ribu per liter. Kondisi tersebut berdampak terhadap pagu anggaran operasional Pete-Pete Laut tahun berjalan.

“Yang kami tambah itu anggaran BBM-nya karena kenaikan harga Solar Dex cukup membuat susah bergerak. Yang jelas kami usulkan tambahan karena ada kenaikan harga BBM,” pungkasnya. (*)

Comment