LENSA, NAGOYA – Judha Raja Panggabean dan keempat rekannya sempat yakin pertandingan akan berlanjut ke gim kelima. Tim Pokémon Unite Indonesia sudah merebut gim pertama dari tuan rumah Jepang di final Asian Games Aichi-Nagoya 2026, dan gim keempat nyaris jadi milik mereka. Namun laga beregu lima lawan lima itu berakhir 1-3, dan Indonesia pulang membawa medali perak.
“Dikit lagi harusnya kita bisa memenangkan game empat lalu lanjut ke game lima,” kata Judha usai laga.
Ada sedikit sesal dalam kalimat itu, tapi rasa bangga tim jauh lebih besar. Sebelum turnamen dimulai, mereka hanya menargetkan perunggu. “Sebelum Asian Games dimulai target kami perunggu. Tapi kami selalu percaya bisa melakukan persiapan terbaik,” ujar Judha.
Bagi Judha, medali ini adalah ujung dari perjalanan pribadi yang sangat panjang. Ia mulai menekuni gim kompetitif saat masih kelas 6 SD pada 2006, dengan Dota 1 sebagai gim pertamanya.
“Aku mendalami games atau esports sejak kelas 6 SD, 20 tahun yang lalu mungkin, tahun 2006. Game pertama aku Dota 1,” kenangnya.
Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang di dunia esports, tempat karier atlet sering kali singkat dan gim populer datang silih berganti. Judha tetap bertahan. Ia terus belajar, berpindah gim, lalu menemukan tempatnya di Pokémon Unite. Judhala latihan, ia rajin menonton turnamen dan mengikuti perkembangan berbagai gim mobile lain. Dari kebiasaan itu ia paham bahwa di level internasional kemampuan individu saja tidak cukup.
Pokémon Judha adalah nomor beregu. Setiap pemain punya peran masing-masing, dan kemenangan hanya datang jika kelimanya bergerak sebagai satu kesatuan. Menurut Judha, fondasi permainan ini adalah kekompakan tim, ditambah pemahaman gaya bermain tim dari berbagai negara.
Kekompakan itu dibangun selama sekitar 60 hari pemusatan latihan nasional bersama Marcello Hillers, Muhammad Haikal, Novrizal Diananta Said, dan Denny Ardianyanto. Mereka berlatih, menyusun strategi bersama pelatih, dan belajar saling membaca di dalam permainan.
Hasilnya terlihat di Nagoya. Indonesia beberapa kali tertinggal lebih dulu di fase grup, tetapi selalu bangkit dan menang atas Singapura dan Hong Kong dengan skor 2-1. Malaysia disingkirkan 2-0 di perempat final, lalu Filipina dengan skor yang sama di semifinal.
“Setiap pemain harus menjalankan perannya. Kami mengandalkan strategi pelatih dan draft, dan kelima pemain memberikan penampilan terbaik,” kata Judha menjelang final.
Chef de Mission Kontingen Indonesia Todotua Pasaribu menyebut capaian ini istimewa. “Anak-anak muda ini pertama kali bertanding langsung dapat perak,” ujarnya.
Dua puluh tahun lalu, mungkin tidak banyak orang yang membayangkan anak kelas 6 SD yang asyik bermain Dota akan berdiri di podium Asian Games bersama timnya. Karena itu Judha ingin generasi muda tidak ragu menekuni apa yang mereka sukai.
“Jika kamu punya hobi, coba dikejar dan diseriusin. Karena mungkin saja dari sana ada kesempatan untuk mencapai sesuatu yang luar biasa, seperti aku yang dapat medali perak untuk Indonesia di Asian Games 2026,” pesannya.
Perjalanan mereka belum selesai. Usai Nagoya, Judha dan rekan setimnya bersiap menuju Kejuaraan Dunia dengan satu keyakinan baru, yaitu gelar juara ternyata tidak sejauh yang mereka kira. (*)
Comment