Resmi Pimpin Golkar Sulsel, IAS Mulai Bangun Panggung Politik

LENSA, MAKASSAR — Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mulai menyiapkan langkah politik jangka panjang setelah resmi memimpin DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan. Konsolidasi organisasi hingga pembenahan kekuatan politik di daerah menjadi pijakan awal untuk membangun mesin partai menghadapi agenda politik mendatang, termasuk Pilgub Sulsel.

Sinyal itu mengemuka dalam sambutan IAS pada pelantikan pengurus DPD I Partai Golkar Sulsel di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (25/10/2026). Meski belum secara terbuka menyatakan pencalonan gubernur, IAS menegaskan komitmennya membangun kekuatan Golkar melalui konsolidasi, kolaborasi, dan peningkatan perolehan kursi legislatif.

Di hadapan jajaran elite Partai Golkar yang hadir, sepertii Sekretaris Jenderal DPP Golkar Muhammad Sarmuji yang juga Menteri Perindustrian, Wakil Ketua DPP Golkar yang juga Menteri Komdigi Meutya Hafid, serta Ketua Transformasi dan Pusat Data Digital yang juga Menteri UMKM Maman Abdurrahman, IAS menyebut perjalanan konsolidasi yang dilakukannya untuk mencapai puncak kepemimpinan partai di Sulsel kini telah memasuki babak baru.

“Alhamdulillah tidak terasa sebuah perjalanan konsolidasi bagi saya secara pribadi dalam rangka mencapai puncak pimpinan untuk memimpin partai di Sulawesi Selatan. Hari ini Alhamdulillah sampailah pada puncaknya dalam sebuah proses keabsaan daripada sebuah kepengurusan,” kata IAS, dalam sambutannya.

Pernyataan tersebut menjadi penanda bahwa IAS mulai memasuki fase konsolidasi kekuatan setelah memperoleh legitimasi sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel. Tantangan berikutnya ialah menerjemahkan kepemimpinan di tingkat provinsi menjadi kekuatan politik yang terukur hingga kabupaten/kota.

IAS tidak menutupi bahwa waktu kepengurusannya relatif terbatas untuk mempersiapkan partai menghadapi agenda politik berikutnya. Karena itu, ia menargetkan konsolidasi organisasi rampung pada pertengahan 2027, termasuk menuntaskan musyawarah daerah (Musda) Golkar di kabupaten/kota se-Sulsel.

“Konsolidasi harus tuntas kita lakukan di pertengahan medio 2027. Memang kami keteteran Pak Sekjen. Karena waktu kepengurusan kami ini tinggal 3 tahun efektifnya,” ujarnya.

Bagi IAS, konsolidasi tidak cukup hanya dengan merampungkan struktur kepengurusan. Ia ingin Golkar memiliki instrumen untuk mengukur kekuatan figur sekaligus memastikan kontribusi setiap kader terhadap target politik partai.

“Saya orang yang mungkin tidak terlalu paham dalam konteks sekian lama tidak berada di dalam instrumen partai ini. Maka pendekatan yang kami lakukan, melakukan pendekatan survei untuk melihat seberapa besar kotokohan ini bisa diterima. Itu menjadi salah satu indikator,” jelasnya.

Selain popularitas dan penerimaan figur, IAS menekankan pentingnya kemampuan kader mendongkrak perolehan kursi. Ia juga menempatkan kolaborasi sebagai salah satu kunci untuk mencapai target tersebut.

“Tidak akan mungkin capaian kita bisa kita dapatkan kalau kolaborasi dari seluruh instrumen partai tidak mampu kita ciptakan,” tegasnya.

Pernyataan IAS mengenai survei dan pengukuran kekuatan figur menjadi salah satu bagian yang menarik dalam membaca arah kepemimpinannya di Golkar Sulsel. Namun, ia belum menguraikan secara spesifik apakah pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pengukuran peluang dirinya untuk maju pada Pilgub Sulsel mendatang.

Yang jelas, IAS telah menetapkan sasaran elektoral bagi partai yang dipimpinnya. Ia menargetkan perolehan kursi DPR RI dan DPRD Sulsel masing-masing mencapai 50 persen, sementara target untuk DPRD kabupaten/kota akan dituangkan dalam pakta integritas bersama para ketua DPD II.

“Insya Allah pastikan apa yang menjadi bagian daripada sebuah komitmen kami dalam sebuah notak kebersamaan, nita kesepahaman yang tertuang dalam pakta integritas. Insya Allah kami akan memutihkan dan mewujudkan target perolehan DPR RI Insya Allah 50%. Target perolehan kursi DPR provinsi 50%,” kata IAS.

Target tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Golkar Sulsel. IAS dituntut membangun struktur partai yang solid sekaligus meningkatkan daya saing di setiap daerah pemilihan. Hasil konsolidasi dan capaian elektoral partai nantinya akan menjadi bagian penting dalam menentukan posisi Golkar menghadapi kontestasi politik berikutnya.

Di luar konsolidasi politik, IAS juga menyiapkan pembenahan infrastruktur partai. Ia mengungkapkan rencana renovasi sekretariat DPD I Golkar Sulsel dengan penambahan satu lantai untuk ruang pleno yang mampu menampung sekitar 200 pengurus.

Menurutnya, fasilitas tersebut dibutuhkan agar kegiatan organisasi dapat berjalan lebih efektif tanpa harus bergantung pada penyewaan hotel setiap kali menggelar rapat besar.

IAS turut menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang membantu pembangunan sekretariat, di antaranya Nurdin Halid dengan bantuan Rp1 miliar dan Hamka B Kady sebesar Rp300 juta.

“Dan salah satu yang menjadi sebuah indikator bahwa partai ini adalah partai modern. Partai yang betul-betul terbuka. Maka untuk memperlihatkan identitasnya Insya Allah kami sedang melakukan renovasi pembangunan Sekretariat Parti Golkar. Kita akan menambah satu lantai untuk membangun ruang poleno,” ujar IAS.

“Karena rasanya kalau saya tidak membangun ruang poleno dengan jumlah peserta pengurus yang 200, maka diongkos kalau setiap rapat mesti di hotel,” imbuhnya. (*)

Comment