LENSA, MAKASSAR – Universitas Tamalatea Makassar kembali menggelar wisuda tahun akademik 2025/2026. Sebanyak 176 mahasiswa dari jenjang Diploma (D-4), Sarjana (S-1), hingga Pascasarjana (S-2) dikukuhkan sebagai wisudawan dan wisudawati.
Prosesi wisuda berlangsung di Dalton Hotel Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya satu fase pendidikan sekaligus awal bagi para lulusan untuk memasuki kehidupan profesional dan pengabdian di tengah masyarakat.
Wisuda kali ini terasa lebih istimewa dengan kehadiran Bupati Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Ikram Malan Sangadji. Ia hadir langsung memberikan dukungan kepada para mahasiswa asal daerahnya yang menyelesaikan pendidikan di Universitas Tamalatea Makassar.
Kehadiran Ikram sekaligus menjadi bagian dari rencana penguatan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah dengan Universitas Tamalatea Makassar. Sebab, terdapat sekitar 12 mahasiswa asal Halmahera Tengah yang menyelesaikan pendidikan pada wisuda yang digelar ini.
Selain itu, turut hadir Syahruddin, Kepala Bagian LLDIKTI IX mewakili Kepala Lembaga LLDIKTI IX, dan perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, serta tamu undangan lainnya.
Rektor Universitas Tamalatea Makassar, Dr. Muhammad Ilyas Nur, mengatakan wisuda tidak seharusnya dimaknai sebagai akhir dari proses belajar. Menurutnya, dunia setelah kampus justru akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih beragam dan membutuhkan kemampuan untuk terus beradaptasi.
“Wisuda bukan tentang orang-orang yang selesai belajar, wisuda adalah tentang kehidupan yang terus berjalan,” kata Ilyas.
Ia mengingatkan para lulusan bahwa perjalanan selama berada di bangku kuliah telah membentuk mereka untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Tidak semua mahasiswa menjalani proses pendidikan dengan kondisi yang sama. Ada yang harus bekerja sambil kuliah, berjuang memenuhi biaya pendidikan, hingga menghadapi persoalan keluarga.
Karena itu, Rektor Universitas Tamalatea Makassar meminta para lulusan tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang diperoleh selama berada di lingkungan kampus.
“Dari belakang mungkin ada orang tua yang mungkin tidak memahami apa itu SKS, metode penelitian, dan atau indeks prestasi. Mungkin ada seorang ayah yang tidak pernah membaca tesis atau skripsi anaknya. Tunjukkan melalui kebesaran untuk menjadi manusia yang baik ketika dunia memberikan banyak alasan melakukan sebaliknya,” ujarnya.
Ilyas juga menyinggung perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Perkembangan teknologi dan kecerdasan manusia membuat pengetahuan terus bergerak, sehingga apa yang dianggap baru hari ini bisa saja menjadi hal biasa beberapa tahun kemudian.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat perguruan tinggi tidak mungkin memberikan seluruh jawaban atas persoalan yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan untuk terus belajar sepanjang kehidupan.
“Kemampuan untuk terus belajar, jangan pernah merasa pendidikan berakhir ketika ijazah diterima. Orang yang berhenti belajar setelah wisuda sesungguhnya sedang mempersiapkan dirinya untuk tertinggal. Teruslah membaca, teruslah bertanya, teruslah belajar, dan jangan takut memulai ketika kehidupan membawa kalian ke jalan yang tidak pernah kalian rencanakan,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji didapuk menyampaikan orasi ilmiah dengan tema ‘Transformasi Ekosistem Kesehatan Daerah’. Tema tersebut dinilai relevan dengan keberadaan sejumlah mahasiswa asal Halmahera Tengah yang menempuh pendidikan pada bidang kesehatan di Universitas Tamalatea Makassar.
Ikram menyampaikan, dari sekitar 12 mahasiswa asal Halmahera Tengah yang diwisuda, sebagian besar merupakan penerima beasiswa pemerintah daerah. Ia berharap pendidikan yang telah ditempuh dapat memberikan dampak langsung bagi pembangunan daerah, khususnya dalam memperkuat sumber daya manusia di sektor kesehatan.
“Kami melihat bahwa mahasiswa yang di wisuda di bidang pendidikan kesehatan itu memiliki arti yang luas, kalau hanya aspek pendidikan maka ada tiga masalah penting yang jadi dasar pikiran kita semua,” tutur Ikram.
Tiga hal yang dimaksudkan yaitu pengembangan potensi, peningkatan kompetensi dan keterampilan, serta pembentukan jati diri. Bagi Ikram, lulusan bidang kesehatan tidak cukup hanya menguasai ilmu dan keterampilan teknis, tetapi juga harus memiliki integritas dan tanggung jawab.
“Kalau susah berilmu di bidan kesehatan maka jadi diri, integritas, tanggungjawab itu harus lebih jelas. Karena manusia diciptakan oleh Allah SWT dan akan dikembalikan ke Allah SWT. Tetapi di situ di ruang lahir sampai dia meninggal di situlah peran para wisudawan ini,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menekan beban masyarakat pada sektor pendidikan dan kesehatan. Dua sektor tersebut, menurutnya, menjadi komponen besar dalam pengeluaran rumah tangga sehingga pemerintah harus hadir memberikan dukungan.
“Ada biaya sosial yang sangat besar dari sebuah rumah tangga, itu ada dua komponen. Pertama adalah pendidikan dan keuda kesehatan. Oleh karena itu dua komponen ini harus disanggah oleh pemerintah,” jelasnya.
Ikram menambahkan, transformasi ekosistem kesehatan harus dimulai dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu mengambil peran dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Ketua Panitia Wisuda Universitas Tamalatea Makassar, Dr. Sukirno Kasau, menjelaskan kedatangan Bupati Halmahera Tengah tidak lepas dari keberadaan sejumlah pegawai dari daerah tersebut yang dikirim untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Tamalatea Makassar.
“Ada beberapa mahasiswa, pegawai dari Kabupaten Halamara Tengah yang dikirim ke sini, makanya Bapak Bupati datang ke sini,” kata Sukirno.
Menurutnya, kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah ke depan tidak hanya diarahkan pada bidang pendidikan. Universitas Tamalatea Makassar juga siap membantu pemerintah daerah dalam pengembangan ekosistem digital, khususnya di bidang kesehatan.
Sukirno mengungkapkan, salah satu gagasan yang dibicarakan adalah pembangunan dashboard kesehatan yang terintegrasi. Program tersebut nantinya dapat dikembangkan melalui dukungan Program Studi Informatika yang dimiliki Universitas Tamalatea Makassar.
“Tadi juga sempat cerita sama Pak Bupati, dan kita di sini ada Prodi Informatika, dia minta dibantu untuk membangun dashboard kesehatan yang nanti terintegrasi di sana,” ujarnya.
Kerja sama tersebut diharapkan menjadi bagian dari MoU antara kedua pihak. Selain menerima mahasiswa dari Halmahera Tengah, Universitas Tamalatea juga membuka peluang untuk memberikan dukungan keilmuan dan teknologi bagi kebutuhan pembangunan daerah.
“Jadi itu untuk MoU juga kita selain mahasiswa yang datang ke sini, kita bantu juga dari sisi ekosistem digitalnya di sana,” jelasnya.
Sukirno menjelaskan, para mahasiswa yang diwisuda berasal dari beberapa program studi. Wisuda kali ini merupakan gelombang ketiga sejak Universitas Tamalatea Makassar bertransformasi dari sekolah tinggi menjadi universitas.
“Kalau ini sebenarnya sudah gelombang ketiga, tapi pada prinsipnya karena kitakan dulu sekolah tinggi yang berubah jadi universitas. Kalau dihitung dari sekolah tinggi itu mungkin sudah ke 30-an, tapi karena kita baru 3 tahun terakhir jadi universitas maka ini gelombang ketiga (wisuda),” pungkasnya.
Foto: Proses wisuda gelombang ke III Universitas Tamalatea Makassar.
Comment