Tonggak Sejarah Baru Penanganan Obesitas, RS Wahidin Sukses Lakukan Operasi Bariatrik Perdana

LENSA, MAKASSAR – RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar mencatat tonggak sejarah baru dalam pengembangan layanan kesehatan di kawasan Indonesia Timur. Untuk pertama kalinya, rumah sakit rujukan nasional tersebut berhasil melaksanakan operasi bariatrik pada Sabtu, 26 September 2026.

Operasi perdana dilakukan pada seorang pasien perempuan berusia 30 tahun dengan berat badan 95 kilogram. Tindakan berjalan dengan baik dan ditangani oleh tim dokter bedah digestif RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, yakni dr. Ronald Erasio Lusikooy, Sp.B-KBD dan dr. M. Ikhwan Kusuma, Sp.B-KBD, bersama tim anestesi, keperawatan, serta tenaga kesehatan pendukung lainnya.

Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam pengembangan layanan komprehensif bagi pasien dengan obesitas, terutama pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut setelah melalui evaluasi medis secara menyeluruh.

Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, dr. Annas Ahmad, mengatakan bahwa operasi bariatrik perdana ini merupakan bagian dari transformasi layanan rumah sakit untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang semakin maju dan terintegrasi.

 

“Ini merupakan tonggak sejarah baru bagi RS Wahidin. Kami ingin memastikan masyarakat di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur memiliki akses terhadap layanan bariatrik yang aman, komprehensif, dan berbasis bukti ilmiah tanpa harus mencari pelayanan jauh ke luar daerah,” ujar dr. Annas Ahmad.

Operasi bariatrik merupakan prosedur bedah yang dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien obesitas dengan indikasi tertentu. Tindakan tersebut tidak semata-mata bertujuan menurunkan berat badan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengendalikan berbagai risiko penyakit metabolik yang berkaitan dengan obesitas.

Obesitas sendiri merupakan kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, antara lain diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan tidur, serta berbagai gangguan metabolik lainnya.

Karena itu, pelayanan bariatrik membutuhkan pendekatan multidisiplin. Pasien tidak hanya ditangani oleh dokter bedah, tetapi juga menjalani evaluasi dan pendampingan dari berbagai disiplin, seperti penyakit dalam, anestesi, gizi klinik, psikiatri, keperawatan, serta tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan pasien.

Menurut dr. Annas Ahmad, keberhasilan operasi perdana ini tidak berhenti pada aspek tindakan bedah semata, tetapi menjadi awal dari pengembangan layanan obesitas dan metabolik yang terintegrasi di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.

“Kami ingin membangun layanan yang utuh, mulai dari skrining, asesmen, edukasi, intervensi nutrisi, tindakan operatif sesuai indikasi, hingga pemantauan jangka panjang. Prinsipnya adalah keselamatan pasien, kualitas layanan, dan hasil klinis yang optimal,” jelasnya.

Keberhasilan pelaksanaan operasi tersebut juga menunjukkan kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dalam mengembangkan pelayanan spesialistik dan subspesialistik yang semakin kompleks.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional dan rumah sakit pendidikan utama di kawasan Indonesia Timur, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo terus memperkuat berbagai layanan unggulan sebagai bagian dari transformasi menuju clinical excellence, dengan mengedepankan kolaborasi multidisiplin, pemanfaatan teknologi kedokteran, peningkatan kompetensi SDM, serta standar mutu dan keselamatan pasien.

“Operasi bariatrik perdana ini diharapkan menjadi awal dari semakin terbukanya akses masyarakat terhadap penanganan obesitas secara modern dan komprehensif,” pungkas dr. Annas. (*)

Comment