Siapa Pendamping IAS? Pengamat Ungkap Kriteria Sekretaris Ideal Golkar Sulsel

LENSA, MAKASSAR – Kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) di Partai Golkar Sulsel mulai memasuki fase krusial. Hal itu sekaitan dengan penentuan komposisi pengurus, termasuk keberadaan figur atau sosok yang paling tetap mendampingi IAS sebagai sekretaris partai.

Memasuki hari ke 13, pasca mantan Walikota Makassar dua periode itu terpilih secara aklamasi 20 Juli lalu, juga sekaligus ditetapkan sebagai tim formatur, sampai hari ini belum ada kepastian jelas siapa yang digadang-gadang menjadi sekretaris dari empat nama yang beredar.

Mereka adalah Arfandy Idris, Armin Mustamin Toputiri, Patarai Amir hingga Rahman Pina. Empat nama tersebut dinilai cukup kemampuan mumpuni untuk mengemban amanah tersebut mendampingi IAS.

Pengamat politik, Muhammad Asratillah menjelaskan, penunjukan Sekretaris DPD I Golkar Sulsel merupakan keputusan yang sangat strategis karena sekretaris bukan hanya jabatan administratif. Melainkan posisi dalam partai yang memiliki peran penting dan cukup krusial.

Posisi sekretaris dinilai sebagai ‘mesin’ utama organisasi yang tidak hanya mengatur administrasi. Tetapi strategi dalam menjalankan roda organisasi secara menyeluruh dan komunikasi internal kader harus mampu dikuasai dan dikelola secara matang demi kepentingan arah partai kedepan.

“Sekretaris adalah penggerak utama organisasi sehari hari, penghubung antara ketua dengan struktur partai, sekaligus orang yang memastikan keputusan politik diterjemahkan menjadi kerja organisasi. Karena itu, IAS memang perlu sangat selektif,” ungkap Asratillah, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, ukuran utamanya bukan siapa yang paling populer, tetapi siapa yang memiliki kapasitas organisasi, loyalitas, kemampuan berkomunikasi dengan berbagai faksi, dan yang paling penting memiliki cukup waktu untuk mengurus partai.

Asratillah menyebut, sekretaris ideal Golkar Sulsel harus memiliki karakter organisatoris yang kuat. Sebab ketua akan lebih banyak berperan sebagai representasi politik dan pengarah strategis, sementara sekretaris harus memastikan mesin organisasi berjalan setiap hari. Terlebih Golkar Sulsel menghadapi target besar menuju Pemilu 2029.

“Konsolidasi DPD II, penguatan struktur kecamatan hingga kelurahan dan desa, kaderisasi, serta persiapan menghadapi kompetisi elektoral membutuhkan figur yang bisa bekerja secara intensif. Dalam konteks ini, ketersediaan waktu menjadi modal politik yang sangat penting,” jelasnya.

Direktur Profetik Institute itu menjelaskan, kalau melihat empat nama yang berkembang saat ini semuanya hampir memiliki kelebihan. Rahman Pina dinilai memiliki pengalaman politik dan komunikasi publik yang cukup kuat, sementara Arfandy Idris juga memiliki pengalaman organisasi dan pemahaman terhadap dinamika internal Golkar.

Begitupun Mustamin Toputiri memiliki pengalaman dalam struktur dan proses kepartaian sehingga memahami mekanisme organisasi. Sementara Patarai Amir memiliki pengalaman legislatif dan organisasi serta dinilai memiliki jaringan kader yang cukup luas.

“Jadi keempatnya memiliki modal masing masing dan tidak tepat jika peluangnya hanya diukur dari popularitas,” ungkapnya.

Ia juga melihat persoalannya ini bukan soal siapa yang paling kuat secara personal, tetapi siapa yang paling cocok menjadi pasangan kerja IAS. Golkar Sulsel disebut membutuhkan duet yang saling melengkapi. Jika IAS lebih banyak bergerak sebagai representasi politik dan membangun komunikasi eksternal, maka sekretaris idealnya adalah figur yang kuat dalam kerja internal, disiplin organisasi, dan mampu turun langsung mengawal DPD II.

“Dalam teori organizational leadership, efektivitas organisasi sangat ditentukan oleh pembagian peran yang jelas antara pemimpin strategis dan pengelola operasional,” tutur Asratillah.

Terakhir, Asratillah mengungkapkan bahwa dari kacamatanya, IAS perlu memilih sekretaris berdasarkan kebutuhan Golkar Sulsel lima tahun ke depan, bukan berdasarkan pertimbangan jangka pendek atau keseimbangan kelompok semata.

Empat figur yakni Rahman Pina, Arfandy Idris, Mustamin Toputiri dan Patarai Amir sama-sama memiliki kelebihan, tetapi harus diuji pada tiga hal utama yaitu kapasitas organisasi, kemampuan membangun rekonsiliasi antar faksi, dan ketersediaan waktu untuk bekerja penuh bagi partai.

“Jika tiga ukuran itu terpenuhi, sekretaris yang terpilih bisa menjadi mesin utama yang membantu IAS mengubah kemenangan Musda menjadi kekuatan elektoral nyata menuju 2029,” kata dia.

Sementara itu, Pengamat politik UIN Alauddin Makassar, Prof Firdaus Muhammad menilai seluruh nama yang beredar untuk menduduki posisi kursi sekretaris merupakan kader militan yang memiliki rekam jejak pengabdian panjang di Golkar.

“Semua kader militan dan teruji kinerja serta pengabdiannya di partai,” ujar Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar periode 2019-2023 itu.

Yang terpenting adalah kecocokan dengan Pak IAS. Selain harus sevisi dalam mengembangkan Golkar, figur sekretaris juga harus mampu mendukung upaya partai bersaing dengan kekuatan politik lain.

Tak ada pilihan, Golkar Sulsel harus menata diri lebih awal dan terkonsolidasi agar solid bekerja membesarkan partai secara masif. Tantangan ke depan partai Golkar cukup berat apalagi jika ingin kembali merebut kursi Ketua DPRD Sulsel pada kontestasi mendatang. (*)

Comment