LENSA, MAKASSAR — Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali menjelaskan, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI yang akan dimulai hari ini (29/1/2026) hingga Sabtu (31/1/2026) mendatang, akan menjadi ajang untuk mematangkan jargon “Super Terbuka” yang telah diluncurkan pada Kongres PSI tahun lalu.
“Bahwa ada banyak hal yang kemudian belum diceritakan, belum diatur dalam Kongres, ini akan diatur di Rakernas. Sehingga termasuk di dalamnya nanti adalah bagaimana mengatur sistem kepartaian ini. Kami akan mencoba menata partai ini sebagai partai modern sehingga kemudian ke depan siapa pun yang memimpin partai ini dia akan berjalan berdasarkan sistem. Karena kenapa? Ini menjadi sangat mendesak,” jelas Ahmad Ali.
Ahmad Ali menegaskan, forum Rakernas merupakan forum tertinggi internal partai setelah Kongres.
“Partai ini kami sudah deklarasikan dengan tagline Super TBK. Super TBK itu dia tidak punya tuan, tidak punya pemegang saham,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali memaparkan, konsep pemegang saham ialah siapapun memiliki andil dalam setiap keputusan.
“Nah, kalau demikian, maka siapa yang akan jadi direksi di perusahaan nanti adalah para anggota-anggota ini. Supaya kemudian tidak sesat arah, maka partai ini harus disiapkan sistemnya sehingga siapa pun nanti yang menakhodai, siapa pun nanti yang ditunjuk oleh anggota pemegang saham untuk menjadi direksi, maka ada sistem yang memandu direksi baru untuk mengarahkan partai ini ke mana jalan-jalannya,” tutur Ahmad Ali.
Ia pun menegaskan, bila PSI tidak bisa dikendalikan oleh satu atau sekelompok orang saja di internal. Makanya, ia menekankan, PSI akan jadi “rumah” yang nyaman untuk para kader dan seluruh masyarakat Indonesia.
“Tidak ada lagi klaster pendiri ataupun senior di partai ini, semua sama derajatnya. Itulah makna dari Super TBK, sehingga kemudian partai ini bertumbuh menjadi milik bersama. Insya Allah kita tidak akan membangun kasta di partai ini. Kami ingin bagaimana kemudian menempatkan semua kader setara antara satu dengan yang lain. Kami ingin seluruh rakyat Indonesia memiliki mimpi yang sama,” tutur Ahmad Ali.
Perihal mantan Presiden RI, Joko Widodo yang kerap dijadikan sebagai simbol partai, Ahmad Ali memberi penjelasan. Katanya, Jokowi dicap sebagai figur yang layak untuk dijadikan patron oleh masyarakat, khususnya dalam kepemimpinan bangsa dan negara.
“Kami ingin semua anak-anak desa, pemuda-pemuda desa bisa bermimpi. Pak Jokowi itu orang desa, dia bisa jadi Presiden. Kalau Pak Jokowi orang desa bisa jadi Presiden, kenapa kita yang dari Sidrap, yang dari Polewali tidak punya keberanian untuk bermimpi? Karena ada PSI yang mewadahi kalian untuk bisa bertumbuh menjadi seorang politisi yang insya Allah ini menjadi rumah kalian dan tidak akan dipungut apa-apa dan di sini kalian tidak akan pernah ditagih janji, tidak akan pernah diminta utang, kalian tidak akan pernah dituntut balas budi di partai ini jika kalian bertumbuh besar di partai ini, yang penting kalian mengabdi untuk rakyat Indonesia,” papar Ahmad Ali.
Di PSI juga, lanjut Ahmad Ali, tak ada strata politik atasan-bawahan. Semua kader, katanya, punya peran dan tugas yang sama untuk membangun partai.
“Kalau dia bawahan berarti di ujung jari, tapi mereka adalah teman diskusi daripada DPP. Itulah pentingnya kami membangun diskursus, membangun konsolidasi. Untuk apa? Untuk mendengar mereka, untuk mendengar cerita mereka, untuk mendengar permasalahan mereka. Karena permasalahan mereka adalah permasalahan partai, keberhasilan mereka adalah keberhasilan partai,” jelas mantan Anggota DPR RI ini. (*)
Comment