LENSA, MAKASSAR – Pergantian posisi ketua DPW PAN Sulsel dari tangan Husniah Talenrang ke Ashabul Kahfi, masih menyisakan tanda tanya besar. Ada apa dibalik keputusan ini yang terkesan dadakan.
Publik wajar bertanya-tanya, mengingat Husniah Talenrang yang tak lain Bupati Gowa baru setahun terpilih menahkodai Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel. Padahal seyogyanya, masa periodenya hingga lima tahun.
Desas-desus dan spekulasi pun tak terhindarkan menanggapi pergantian posisi ketua DPW, meski Husniah ditarik ke DPP PAN sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) yang fungsinya kebanyakan untuk administrasi internal partai.
Lantas, apakah ada kaitannya dengan isu yang mencuat dan menjadi sorotan di permukaan belakangan ini terkait Husniah Talenrang?
Direktur Profetik Institute, Muhammad Asratillah, mengurai berbagai pandangan politiknya mengenai keputusan DPP PAN yang mengganti posisi ketua DPW di Sulsel.
Menurutnya, jika membaca struktur kekuasaan partai, memang posisi Ketua DPW memiliki bobot politik yang jauh lebih strategis di daerah dibanding posisi wakil di tingkat pusat.
“Ketua DPW memegang kendali konsolidasi kader, jaringan elektoral, komunikasi dengan kepala daerah, hingga penguasaan basis suara. Sementara posisi Wasekjen DPP lebih banyak bergerak di wilayah koordinasi organisasi dan administrasi internal partai,” terang Asratillah, kepada wartawan, Jumat (08/5/2026).
Karena itu, lanjut dia, publik wajar membaca perpindahan Husniah Talenrang sebagai penurunan pengaruh politik di level teritorial Sulawesi Selatan.
Selain itu, membaca keputusan di internal PAN ini juga harus hati hati menyimpulkan bahwa ini semata mata kegagalan total ketua DPW.
Pasalnya, dalam politik partai, pergantian jabatan sering kali tidak hanya ditentukan oleh capaian kerja, tetapi juga oleh kalkulasi stabilitas internal, persepsi publik, dan kebutuhan menjaga citra partai.
“Apalagi pergantian ini terjadi di tengah situasi ketika nama Husniah sedang menjadi sorotan luas. Jadi keputusan DPP PAN kemungkinan besar bukan hanya soal evaluasi kinerja organisasi, tetapi juga soal manajemen risiko politik,” tuturnya.
Ada sinyal, bahwa DPP PAN ingin memisahkan antara penyelamatan figur dan penyelamatan struktur. Figur Husniah tetap dipertahankan di pusat agar tidak terlihat dijatuhkan secara terbuka, tetapi kendali teritorial Sulsel dialihkan kepada figur lain yang dianggap lebih aman untuk konsolidasi internal.
Dalam tradisi partai modern, papar dia, langkah seperti ini cukup umum dilakukan agar partai tidak terjebak dalam turbulensi citra terlalu lama.
Comment