Viral Dicari Ayahnya, Perempuan Asal Gorontalo Akhirnya Ditemukan di Makassar

Oplus_16908288

LENSA, MAKASSAR – Polrestabes Makassar melalui Kasi Humas Polrestabes Makassar, Kompol Wahiduddin membenarkan bahwa perempuan berusia 28 tahun bernama Siti Sahidah Sahari yang sempat viral dicari orang tuanya dari Provinsi Gorontalo sudah ditemukan. 

Wahiduddin menyebut, Siti telah dipertemukan dengan ayahnya yakni Hamzah Sahari (71) di Polrestabes Makassar pada Minggu (15/5/2026) dini hari.

“Gadis tersebut sudah dipertemukan dengan orang tuanya,” kata Wahid lewat pesan WhatsApp saat dikonfirmasi, Minggu sore.

Karena sudah ditentukan dan dipertemukan orang tuanya, Wahid bilang Siti rencananya akan dibawa pulang oleh orang tuanya ke kampung asalnya di Gorontalo.

“Saat ini sudah mau dibawa pulang oleh orang tuanya,” lanjutannya.

Ditanyakan mengenai kronologi penemuan Siti, Wahid bilang ia ditemukan oleh Tim Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar tidak jauh dari tempat ayahnya menumpang selama berada di Kota Makassar. 

Sebagaimana diketahui, sejak Hamzah tiba di Kota Makassar ia menumpang di rumah temannya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea.

“Informasinya didapat di kompleks perumahan Jalan Gowaria Sudiang (Kecamatan Biringkanaya),” tandasnya.

Saat ditanya mengenai alasan Siti putus komunikasi dengan orangtuanya sejak September 2025, Wahid mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman.

“Kalau soal kenapa bisa Lost Kontak dengan keluarganya itu masih didalami,” ungkapnya.

Sebelumnya Rakyat Sulsel memberitakan, seorang perempuan bernama Siti Sahida Sahari dilaporkan hilang kontak oleh orang tuanya sejak September 2025. Sayangnya, saat melapor ke kantor polisi tepatnya di Polsek Panakkukang baru-baru ini malah ditolak dengan beberapa alasan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Hamzah Sahari, ayah dari Siti Sahida Sahari. Pria lanjut usia asal Desa Kayubulan, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo itu mengatakan hingga kini masih terus berupaya mencari keberadaan putri pertamanya tersebut. 

Diceritakan, Siti Sahida merupakan lulusan sarjana keperawatan dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia sebelumnya bekerja sebagai manajer di salah satu gerai restoran Mie Gacoan di Jalan Pettarani, Makassar.

Menurut Hamzah, anaknya awalnya mendaftar bekerja di Mie Gacoan Kota Gorontalo pada April 2025. Namun belakangan Siti Sahida bersama sembilan orang lainnya dikirim ke Kota Makassar untuk mengikuti pelatihan selama tiga bulan.

“Jadi awalnya berangkat dari Gorontalo untuk training di Makassar. Setelah seleksi, hanya empat orang yang dinyatakan lulus, termasuk anak saya. Lainnya kembali ke Gorontalo,” kata Hamzah saat diwawancara wartawan, Kamis (12/3/2026)

Setelah dinyatakan lulus, Hamzah bilang anaknya atau Siti Sahida kemudian dipercaya menjabata manajer di salah satu gerai Mie Gacoan di Makassar pada Agustus 2025. Selama bekerja, komunikasi dengan keluarga di Gorontalo masih berjalan lancar.

Pria berusia 71 tahun itu mengungkapkan, sebelum menghilang, putrinya sempat bercerita kepada orang tuanya bahwa ada seorang pria yang berniat melamarnya. Pria itu disebut bekerja di salah satu rumah sakit di kota ini.

“Dia bilang ada laki-laki yang ingin melamar dan bahkan ingin datang ke Gorontalo. Tapi anak saya bilang ke ibunya, dia baru bekerja dan orang tuanya juga masih sibuk, jadi belum siap untuk menikah,” terangnya.

Namun sejak September 2025, komunikasi antara Siti Sahida dan keluarganya tiba-tiba terputus. Nomor teleponnya pun tidak lagi aktif sehingga keluarga tidak bisa lagi menghubungi.

Khawatir terjadi sesuatu pada putrinya, Hamzah dan keluarganya mulai mencari informasi ke berbagai pihak, termasuk rekan kerja anaknya di Makassar namun sayang hasilnya nihil. 

Dari situlah, Hamzah kemudian memutuskan untuk terbang dari Gorontalo ke Makassar pada Minggu, 8 Maret 2026, untuk mencari anaknya.

Ia mengaku bertemu dengan kenalannya bernama Idham, warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.

Selanjutnya, Idham membawa Hamzah untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sambil mencari keberadaan anaknya di Makassar.

Hari pertama di Makassar, Hamzah dan Idham mulai berjalan mencari informasi terkait keberadaan terakhir Siti Sahida dengan mendatangi tempat kerjanya di Jalan Pettarani.

Disana, keduanya sempat menunggu setengah jam sebelum bertemu dengan manajer yang menggantikan posisi anaknya. Dari informasi yang didapat, anaknya ternyata sudah keluar terus dan membawa kabur uang.

“Saya lansung bilang, berarti anak saya ini buronan, kenapa tidak lapor polisi? orang itu bilang dia tidak melapor polisi” jelas Hamzah.

Mendapat jawaban tak sesuai dengan yang diharapkan, Hamzah mendugaan bahwa ada yang disembunyikan pihak tempat anaknya itu bekerja.

“Jika anak saya membawa kabur uang perusahaan, kenapa tidak melaporkan anak saya,” ujarnya.

Hamzah menegaskan jika dirinya tidak percaya jika anaknya mengambil uang perusahaan, pasalnya dia mengenal baik anaknya bahkan sejak kecil hingga tumbuh dewasa.

“Saya yakin anak saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kalau memang ada masalah, seharusnya ada kejelasan. Sampai sekarang tidak ada penjelasan apa-apa, malah anak saya hilang kontak,” tegasnya.

Dihari yang sama, 9 Maret 2026, Idham dan Hamzah kemudian memutuskan menuju ke Polsek Panakkukang untuk membuat laporan kehilangan anak. Namun sayang, laporannya tidak diterima dengan alasan Siti Sahida sudah dewasa dan bukan termasuk orang dengan gangguan mental atau anak di bawah umur.

“laporan saya tidak diterima sama bapak Polisi bernama pak Asri, dia bilang anak saya sudah dewasa dan bukan orang yang mengalami gangguan mental, jadi belum bisa dibuat laporan. Saya hanya diarahkan untuk mencari informasi dulu, termasuk ketemu bhabinkamtibmas” kata Hamzah.

“Saya juga disuruh buat selebaran foto dan ditulis orang hilang lalu di tempel atau di sebar luaskan,” lanjutannya.

Mengikuti saran polisi di Polsek Panakukang, Hamzah kemudian menemui Bhabinkamtibmas sekitar tempat kerja anaknya untuk menceritakan maksud dan tujuannya.

Namun Bhabinkamtibmas yang ditemui itu hanya bisa membantu shar ke medsos karena alasan bukan warganya.

Sebelum ke Makassar, Hamzah juga bilang sempat melapor ke Polda Gorontalo, namun diarahkan untuk melapor di Makassar karena lokasi terakhir anaknya atau TKP-nya berada di kota ini.

Kini, di usianya yang tidak lagi muda, Hamzah hanya berharap ada pihak yang dapat membantu menemukan keberadaan putrinya.

“Saya cuma ingin tahu anak saya di mana. Kalau dia baik-baik saja, saya ingin dengar langsung. Saya sudah tua, hanya ingin memastikan anak saya selamat,” harapnya. (*)

Comment