Pasca-Dilantik Jadi Ketua KONI Sulsel, Darmawangsyah Muin “Tancap Gas” Bangkitkan Kejayaan Olahraga

LENSA, MAKASSAR – Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Sulawesi Selatan 2026 tak sekadar menjadi agenda rutin organisasi olahraga.

Forum yang mempertemukan seluruh pengurus KONI kabupaten/kota dan cabang olahraga (cabor) se-Sulsel di Hotel Royal Bay Makassar, Sabtu (13/6/2026), menjadi momentum untuk membedah persoalan mendasar olahraga Sulsel, mulai dari menurunnya prestasi, keterbatasan anggaran, hingga komitmen membangun sistem pembinaan atlet yang lebih profesional dan bebas dari praktik nepotisme.

Ketua KONI Sulsel, Darmawangsyah Muin, yang baru beberapa bulan dilantik, menegaskan bahwa kepengurusannya tidak ingin menghabiskan waktu pada kegiatan seremonial. Rakerprov, menurutnya, harus menjadi ruang evaluasi sekaligus tempat lahirnya gagasan dan solusi untuk mengembalikan daya saing olahraga Sulawesi Selatan di tingkat nasional.

Ia mengapresiasi seluruh panitia dan pengurus KONI Sulsel yang bergerak cepat sehingga Rakerprov dapat terlaksana dalam waktu singkat setelah pelantikan pengurus baru. Namun, bagi Darmawangsyah, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar dibanding sekadar menyelenggarakan agenda organisasi.

“Kita sudah mulai bekerja untuk olahraga Sulsel. Rakerprov ini harus menjadi wadah untuk menyusun agenda olahraga yang lebih baik dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang selama ini dihadapi KONI maupun cabang olahraga,” ujarnya.

Darmawangsyah secara terbuka mengakui bahwa prestasi olahraga Sulsel dalam beberapa dekade terakhir belum sesuai harapan. Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk besar dan tradisi olahraga yang kuat, Sulsel dinilai belum mampu mempertahankan posisinya di papan atas Pekan Olahraga Nasional (PON).

Menurutnya, Sulsel hanya sekali mampu menembus tujuh besar klasemen PON dan setelah itu lebih sering terlempar dari jajaran 10 besar nasional. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan olahraga di daerah.

Ia pun memasang target agar Sulsel kembali memiliki daya saing dan mampu menembus peringkat 10 besar pada PON mendatang melalui sistem pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Darmawangsyah mengakui bahwa ambisi tersebut tidak mudah diwujudkan karena KONI Sulsel menghadapi persoalan klasik berupa keterbatasan anggaran. Ia mengungkapkan bahwa dukungan dana hibah untuk KONI Sulsel terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Saat dirinya masih menjabat sebagai anggota DPRD Sulsel, anggaran hibah untuk KONI pernah mencapai Rp40 miliar. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah tersebut terus menurun hingga pada tahun 2026 alokasi dana hibah hanya sekitar Rp500 juta untuk kebutuhan operasional organisasi.

Meski demikian, Darmawangsyah meminta seluruh pengurus tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk menurunkan target prestasi.

“Kalau Rp500 juta dikatakan cukup tentu belum cukup, tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus kreatif mencari solusi dan sumber pendanaan lain untuk mendukung pembinaan olahraga di Sulsel,” tegasnya.

Ia memastikan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulsel 2026 di Wajo dan Bone tetap mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Sulsel dengan alokasi anggaran sekitar Rp6,8 miliar. Namun, kebutuhan riil penyelenggaraan diperkirakan mencapai Rp11 miliar sehingga KONI Sulsel bersama Dinas Pemuda dan Olahraga akan melakukan pendekatan kepada BUMN dan BUMD untuk membantu menutupi kebutuhan anggaran.

Menurut Darmawangsyah, Porprov tahun ini memiliki arti strategis karena bukan hanya menjadi ajang kompetisi antardaerah, tetapi juga menjadi pintu utama pencarian atlet terbaik Sulsel yang akan dipersiapkan menghadapi PON.

Karena itu, ia menegaskan bahwa proses seleksi atlet harus dilakukan secara objektif dan berdasarkan prestasi. Ia tidak ingin ada atlet yang kehilangan kesempatan hanya karena faktor nonteknis.

“Atlet yang berprestasi harus mendapatkan kesempatan membela Sulsel. Jangan ada atlet yang dipilih karena kedekatan atau orang dalam. Kita ingin pembinaan olahraga berjalan profesional dan prestasi menjadi ukuran utama,” katanya.

Ia juga berharap seluruh cabang olahraga yang dipertandingkan dapat berpartisipasi penuh sehingga proses pembinaan dan pencarian bibit atlet berlangsung maksimal.

Di akhir arahannya, Darmawangsyah meminta seluruh peserta Rakerprov menjadikan forum tersebut sebagai wadah evaluasi terhadap program kerja KONI Sulsel sepanjang 2025 hingga 2026. Ia berharap setiap dinamika yang muncul dapat menghasilkan keputusan yang memperkuat persatuan dan meningkatkan kualitas pembinaan olahraga di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulsel yang diwakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel, Suherman, menilai Rakerprov KONI Sulsel merupakan momentum penting untuk menyusun arah pembangunan olahraga daerah yang lebih terukur. Menurutnya, olahraga tidak hanya berbicara tentang prestasi, tetapi juga pembangunan karakter dan pembinaan generasi muda.

Ia menekankan pentingnya pembinaan atlet secara berkelanjutan, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, serta penguatan pembinaan usia dini agar Sulsel memiliki stok atlet berkualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Suherman juga mengajak seluruh insan olahraga meninggalkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi demi mengangkat prestasi olahraga Sulawesi Selatan.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Rakerprov KONI Sulsel 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Forum ini menjadi titik awal bagi kepengurusan baru KONI Sulsel untuk membangun sistem olahraga yang lebih profesional, memperbaiki tata kelola pembinaan atlet, memaksimalkan Porprov sebagai ajang seleksi prestasi, serta mengembalikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu kekuatan olahraga yang diperhitungkan di tingkat nasional. (*)

Comment