LENSA, WAJO – Kemarau panjang membuat Danau Tempe di Kabupaten Wajo mengalami pendangkalan sedalam 50 centimeter (cm) akibat kemarau panjang.
Kondisi itu, membuat sejumlah Nelayan di pesisir Danau tak beraktivitas seperti biasanya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Wajo, Andi Cakunu mengungkap sebagian besar Nelayan memanfaatkan pesisir danau yang kering bertani.
“Sudah banyak Nelayan sekitar Danau saat ini beralih cocok tanam Palawija (Tanaman Ubi, Jagung, dan jenis kacang-kacangan lainnya),” kata Andi Cakunu Minggu (25/10/2026).
“Tentu kemarau ini berdampak pada sub sektor perikanan tangkap. Cuaca panas yang ekstrem itu bisa membuat perubahan ekosistem, ikan akan bermigrasi mencari tempat baru yang lebih dingin,” jelasnya.
Kendati begitu, ditemukan Nelayan masih menangkap ikan menggunakan jaring.
“Ada juga nelayan kita yang tetap mencari ikan pakai jaring. Hanya saja harus ke tengah Danau, jauh dari pesisir,” bebernya.
Ia juga mengimbau nelayan agar mengutamakan keselamatan saat mencari ikan.
Untuk antisipasi, kata dia pihaknya aktif berkoordinasi dengan penyuluh maupun kelompok nelayan.
“Tetap ada update informasi cuaca dan kondisi perairan, kami juga mengimbau untuk mengutamakan keselamatan saat melaut,” pintanya.
Andi Cakunu menegaskan kemarau berkepanjangan tidak akan berpengaruh pada Danau Tempe secara luas.
“Danau Tempe selama ini tidak pernah kering dengan adanya bendungan gerak. Dan memang sudah menjadi rutinitas nelayan beralih jadi petani saat musim kemarau tiba,” tegasnya.
“Ada beberapa titik air surut di pesisir Danau kalau musim kemarau dan itu dimanfaatkan warga untuk bertani,” tambahnya.
Pihaknya juga berharap, dalam waktu dekat turun hujan.
Sehingga mampu kembali memberikan dampak bagi masyarakat, khususnya warga yang bermukim di pesisir Danau.
“Semoga dalam waktu dekat ada turun hujan, mari kita sama-sama berdoa,” tuturnya.
Di sisi lain, Pakkaja (Nelayan) setempat, Abdul Rahman (51) mengaku dirinya kerap beralih jadi petani saat musim kemarau.
“Kalau musim kemarau memang kan kami jarang dapat ikan makanya beralih jadi Petani Palawija,” tuturnya.
“Sudah rutin seperti ini setiap tahun, kalau tikka (kemarau). Penghasilannya memang agak kurang tapi setidaknya bisa menyambung hidup,” tandasnya. (*)
Comment