Dukungan 30 Persen Jadi Kunci, Kontestasi Musda Golkar Sulsel Kian Sengit

Bendera Golkar.

LENSA, MAKASSAR — Dinamika politik jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan kian memanas. Para kandidat mulai berburu dukungan untuk mengamankan tiket menuju kontestasi kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Salah satu syarat krusial yang harus dipenuhi kandidat adalah dukungan minimal 30 persen dari pemilik suara sah. Pemilik suara tersebut berasal dari pengurus DPD II Golkar kabupaten/kota serta organisasi sayap partai.

Koordinator Steering Committee (SC) Musda Golkar Sulsel, Armin Mustamin Toputiri, menyebut total pemilik suara mencapai sekitar 30.

“Sebanyak 24 suara dari DPD II kabupaten/kota di Sulsel, selebihnya dari organisasi yang didirikan dan mendirikan partai,” ujarnya.

Dengan komposisi tersebut, bakal calon setidaknya harus mengantongi dukungan minimal sembilan suara untuk bisa maju.

Sejauh ini, satu nama yang dikabarkan telah melampaui ambang batas tersebut adalah Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin. Appi, sapaan akrabnya, mengklaim telah mengantongi dukungan dari sekitar 20 DPD II kabupaten/kota.

Namun demikian, peta dukungan masih dinamis. Pasalnya, terdapat mekanisme lain yang dapat meloloskan kandidat meski tidak memenuhi syarat dukungan 30 persen, yakni melalui persetujuan Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia.

Di sisi lain, manuver politik juga mulai terlihat. Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dikabarkan telah bertemu dengan Bahlil di Jakarta, yang dibenarkan oleh Plt Ketua Harian DPP Golkar, Kadir Halid. Meski isi pertemuan belum diungkap, langkah tersebut memicu berbagai spekulasi.

Tak lama berselang, beredar pula kabar pertemuan antara Rahman Pina, Andi Fashar Padjalangi, dan IAS di sebuah kafe di Makassar. Pertemuan ini diduga membahas strategi menghadapi Musda.

Sementara itu, Munafri Arifuddin disebut akan mengumpulkan para pendukungnya di Makassar pada Jumat (17/4/2026), yang dinilai sebagai upaya konsolidasi kekuatan.

Pengamat politik sekaligus Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, menilai jika kontestasi mengerucut menjadi dua poros, maka polarisasi dukungan akan semakin tajam.

“Pertemuan pendukung Munafri bisa dibaca sebagai show of force atau upaya mengunci dukungan pemilik suara. Ia punya modal sosial besar dan kedekatan dengan elit pusat,” ujarnya.

Di sisi lain, Rahman Pina dinilai sebagai representasi politisi lapangan yang memahami peta internal Golkar Sulsel. Pertemuannya dengan IAS dan Fashar disebut sebagai langkah strategis membangun koalisi tandingan.

“Melibatkan IAS dan Fashar menunjukkan upaya membangun kekuatan besar untuk menghadang dominasi poros lain. Ini juga bisa menjadi cara merangkul faksi-faksi internal,” jelas Nurmal.

Menurutnya, pertemuan para tokoh tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kontestasi Musda Golkar Sulsel tidak hanya soal perebutan kursi, tetapi juga pertarungan pengaruh antar faksi di tubuh partai.

Dengan berbagai manuver yang terus berlangsung, peta persaingan menuju kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel diprediksi akan semakin dinamis hingga menjelang pelaksanaan Musda. (*)

Comment