LENSA, MAKASSAR – Demo dukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan juga berlangsung di Kota Makassar. Sejumlah relawan dan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyampaikan aspirasinya lewat panggung jalanan atau demostrasi, Rabu (24/6/2026).
Aksi dari Aliansi Rakyat Sulsel dengan isu dukung program MBG dilanjutkan ini berlangsung di bawah Fly Over perempatan Jalan Urip Sumoharjo–AP Pettarani dan di depan gedung sementara DPRD Sulsel, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.
Selain orasi meminta pemerintah tetap melanjutkan program MBG. Dalam aksi ini massa juga membentangkan sejumlah spanduk dukungan terhadap keberlanjutan program prioritas nasional pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden RI, Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka itu.
Jenderal Lapangan Aliansi Rakyat Sulsel, Zulkifli Tahir mengungkapkan, massa aksi yang ikut dalam gerakan mendukung MBG dilanjutkan merupakan perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Ia mengklaim, mereka datang ke Kota Makassar untuk sama-sama turun ke jalan menyampaikan aspirasi terkait keberlanjutan program MBG yang belakangan ini juga banyak mendapat tentangan baik dari masyarakat maupun mahasiswa.
“Massa aksi ini terdiri dari 24 kabupaten kota yang terpanggil nuraninya untuk datang ke Makassar menyuarakan aspirasinya. Maka kami dari aliansi masyarakat Sulawesi Selatan ini menghimpun mereka semua untuk bersama-sama ke kantor DPRD untuk penyampaian aspirasi,” ungkap Zulkifli.
Setelah aksi selesai digelar, Zulkifli bilang massa aksi akan langsung kembali ke daerahnya masing-masing. Ia juga mengungkapkan massa dari 24 kabupaten kota yang hadir dalam aksi demonstrasi ini diperkirakan mencapai 15.000 orang.
Zulkifli juga menyebut, aksi yang dilakukan pihaknya ini diharapkan bisa membuka perhatian pemerintah bahwa di tengah pro dan kontra keberlanjutan program MBG masih banyak warga yang memperoleh manfaat dari program tersebut.
“Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih ini tiba-tiba saja dihentikan oleh kelompok kecil yang mau menghentikan program prioritas nasional,” ungkap Zulkifli.
“Terlepas dari kepentingan politik apapun. Tapi kami, dari aliansi masyarakat Sulawesi Selatan ini tetap harus mendukung dan mengawal program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto,” sambungnya.
Mengenai penutupan sementara SPPG untuk dilakukan evaluasi, Zulkifli mengungkapkan pihaknya mendukung segala keputusan pemerintah. Untuk itu, kata dia, pihaknya meminta tolong kepada wakil rakyat atau DPRD Sulsel sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat untuk mengawal dan mengevaluasi program tersebut.
Dalam aksinya ini, Zulkifli juga menyebut ada lima poin yang disuarakan, mulai dari meminta program MBG dilanjutkan, Sekolah Rakyat, Kampung Nelayan dan Koperasi Merah Putih.
“Dan kami juga meminta kepada SPPG dan relawan MBG ini bantu kami juga untuk mengawasi dan mengevaluasi ini program MBG ini,” jelasnya.
Ditanyakan terkait penolakan program MBG dilanjutkan, Zulkifli menyebut pihaknya tidak memikirkan hal tersebut melainkan berpikir bagaimana mereka yang mendukung sebab kemanfaatan MBG ini diklaim bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kita dengar orasi tadi, dari ibu-ibu tadi itu bagaimana MBG ini sangat bermanfaat sekali. Jadi untuk kelompok-kelompok yang kontra dengan MBG ini ya kami tidak pikirkan itu. Kami hanya bagaimana melanjutkan perjuangan ini, MBG ini sesuai dengan cita-cita dari bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar dia.
Zulkifli kembali menekankan bahwa massa aksi yang hadir dalam aksi ini merupakan panggilan hati nurani dan tidak ada paksaan. Ia juga menegaskan bahwa massa yang hadir tidak ada yang mendapatkan bayaran melainkan gerakan murni. (*)
“Inisiatif mereka sendiri. Namanya juga relawan, tentu terpanggil dengan nuraninya. Jadi tidak ada yang dibayar atau tidak ada yang menggerakkan. Kami hanya mengirimkan himbauan kepada seluruh SPPG yang terlibat dalam program-program ini, mau gak ikut aksi ini.
Mereka terpanggil nuraninya dengan datang tadi malam mulai berangsur-angsur sampai ke Makassar,” tegasnya.
Terpisah, salah satu massa aksi bernama Asma (45) berharap agar program MBG ini tetap dilanjutkan dan kedepannya bisa lebih banyak lagi dapur SPPG yang dibuka. Ia mengaku hadirnya program ini bisa meringankan beban kebutuhan hidupnya.
“Itu tadinya kita susah pekerjaan, sekarang merasa ringan tidak ada lagi merasa terdesak begitu biaya hidup,” ungkap Asma.
Emak-emak yang sudah empat bulan bekerja sebagai petugas SPPG itu berharap dapur MBG atau SPPG bisa tetap dibuka saat masa libur sekolah berlangsung.
Alasannya, upah sebulan sebagai petugas SPPG sebesar Rp2,6 juta bisa mengurangi beban hidup keluarganya. Terlebih sekarang ini hanya dia yang menjadi tulang punggung keluarga.
“Ini sangat membantu meringankan biaya hidup,” kata Asma.
Senda dengan itu, Sahidawati juga menyuarakan kegelisahan yang sama yakni meminta agar pemerintah tetap melanjutkan program MBG.
“Kami minta MBG tetap dilanjutkan, biar kami tetap dapat lapangan pekerjaan,” tegas Sahidawati.
Perempuan berusia 50 tahun dan berstatus janda itu mengaku bekerja sebagai petugas SPPG di wilayah Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Di tempatnya bekerja disebuah ada sekitar 50 orang dan semuanya menggantungkan hidupnya di sana.
“Kami sangat sedih, anak-anak butuh makan, butuh biaya hidup. Apalagi kami seorang janda, anak saya empat, masih sekolah, masih kecil-kecil semua. Harapannya semoga MBG tetap berjalan,” pesannya.
Comment