Dampak Rudal Di Bandara Riyadh, Penumpang Malaysia Airlines dari Makassar Batal Berangkat Ke Tanah Suci

LENSA, MAKASSAR –  Dampak dari serangan rudal dan drone berturut-turut di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi pada 11-12 Oktober 2026 lalu menyebabkan beberapa jamaah asal Indonesia termasuk dari Makassar mengalami penundaan keberangkatan.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), M. Azhar Gazali menjelaskan, penundaan tersebut ditengarai kebijakan dari maskapai  Malaysia Airlines yang melakukan cancel penerbangan tujuan Arab Saudi.

“Ada pesawat dari Malaysia Airlines yang cancel. Tapi yang dari Makassar ke Kuala Lumpur dengan tujuan Madinah tidak terbang, mungkin mereka punya standar keamanan tersendiri itu kebijakan perusahaan mereka,” ucapnya.

Ashar menyebut, jamaah yang batal berangkat kurang lebih 80 orang dan masih sedang dalam konfirmasi .

“Kalau Malaysia Airlines kan biasanya memuat 80 orang saja satu kali flight. Nanti saya cek kembali angka akuratnya berapa. Nah dari sini kan pesawat yang digunakan pesawat kecil, bukan pesawat besar. Nanti pada saat dia berpindah di Kuala Lumpur, baru dia pakai pesawat yang berkapasitas besar tujuan Mekkah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, kasus seperti ini bukan kali pertama terjadi. “Pernah terjadi juga sebelumnya, pada saat situasi di tengah-tengah lagi kurang bagus ya. Sehingga airlines tidak mau mengambil risiko besar.

Mereka lebih bagus melakukan undang atau cancel flight. Menjaga keamanan airlines dan penumpang tentu saja,” jelasnya.

Azhar membenarkan kondisi di Arab Saudi memang memanas namun pihaknya berharap  airlines-airlines yang masih terbang tetap bertanggung jawab untuk memulangkan jemaah yang sementara berada di sana.

“Mungkin ini perlu dipercakapkan dengan pihak yang terkait, terutama pemerintah. Agar yang mengantar tetap bisa memulangkan jemaah yang sedang berada di sana. Jangan hanya memikirkan bahwa kondisi tidak terbang dari sini ke sana itu tidak aman, tapi tidak memikirkan kondisi jemaah yang berada di sana untuk dipulangkan,” pungkasnya.

Dan untuk yang sudah terpencana dalam 1 minggu ke depan keberangkatannya, masih belum berubah skenario-nya. Kita berharap situasi juga segera membaik. Tapi apapun itu, keputusan yang diambil harus keselamatan di atas segala galanya tentu saja.

Ia mengungkapkan saat ini masih menunggu update dari maskapai terkait kapan pemberangkatan dan bagaimana biaya pemberangkatan jamaah.

“Untuk kemungkinan penambahan biaya atau ganti rugi biaya umrah sendiri sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi. Kami berharap penundaannya hanya berlangsung selama 1-2 hari, Kita berharap seperti itu.Tapi sekali lagi, kembali kepada situasi di sana. Saya rasa penerbangan apapun kalau memang kondisinya tidak bagus, tidak membaik, dan itu membahayakan keselamatan Jemaah, mereka berhak untuk membuat keputusan berangkat atau tidak,” jelasnya. (*)

Comment