LENSA, TAKALAR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, menuai sorotan. Seorang warga mengeluhkan kualitas salah satu menu yang dibagikan kepada siswa saat Ramadan karena dinilai tidak sesuai standar gizi dan terindikasi tidak layak konsumsi.
Keluhan tersebut disampaikan Nurlinda Taco setelah melihat langsung menu yang diterima keponakannya pada Rabu (25/2/2026). Ia mengaku terkejut karena makanan yang dibagikan dianggap jauh dari konsep “makan bergizi” yang selama ini digaungkan pemerintah.
“Begitu dilihat, menunya seperti camilan biasa. Ini bukan seperti makanan bergizi lengkap,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Menurut Nurlinda, selain kualitas roti yang dinilai rendah, terdapat menu singkong keju yang diduga sudah tidak segar. Ia menyebut singkong tersebut mengeluarkan aroma tidak sedap, bahkan baunya melekat di tangan siswa setelah disentuh.
“Kondisi seperti ini tentu memprihatinkan. Makanan untuk anak-anak seharusnya benar-benar terjaga kualitas dan kebersihannya,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa program MBG bukan sekadar rutinitas pembagian makanan, melainkan menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat. Makanan yang tidak segar atau basi, kata dia, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan sekaligus mencerminkan lemahnya pengawasan mutu.
Nurlinda juga mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak dijadikan alasan untuk menurunkan kualitas makanan. Ia mendesak adanya evaluasi menyeluruh mulai dari proses pengadaan bahan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan di lapangan.
“Kami berharap ada langkah konkret dan perbaikan segera agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tambahnya.
Keluhan tersebut ditujukan kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pelaksana program MBG di daerah, termasuk jajaran pengelola di tingkat kabupaten dan provinsi.
Sementara itu, Koordinator SPPG Takalar, Maulana, saat dikonfirmasi menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia mengaku telah menerima informasi terkait keluhan warga dan langsung menindaklanjutinya.
“Kami sudah mendapatkan laporan tersebut dan meminta pengelola dapur MBG turun langsung melakukan pengecekan kepada penerima manfaat yang menyampaikan keluhan,” jelasnya.
Maulana menegaskan pihaknya telah menginstruksikan agar pengelola dapur meminta maaf secara langsung kepada warga apabila terbukti ada menu yang tidak sesuai standar. Ia juga memastikan evaluasi akan terus dilakukan terhadap seluruh dapur MBG di Takalar.
“Kalau memang ditemukan ketidaksesuaian standar gizi atau kualitas, tentu akan kami benahi. Namun jika setelah dicek ternyata tidak sesuai dengan informasi yang beredar, kami juga menyayangkan jika ada pihak yang memperkeruh suasana,” tutupnya.
Program MBG yang dijalankan melalui SPPG sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak. Namun, pengawasan ketat dan kontrol mutu dinilai menjadi kunci agar manfaat program benar-benar dirasakan tanpa menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat. (*)
Comment