LENSA, MAROS — Universitas Muslim Maros (UMMA) kembali mengukir sejarah pada Wisuda dan Dies Natalis ke-8 yang digelar, Sabtu (15/11/2025). Sebanyak 266 wisudawan resmi dikukuhkan, masing-masing dari FEB (149 orang), FKIP (62), dan FAPERTAHUT (55).
Dalam pidatonya, Rektor UMMA, Prof. Nurul Ilmi Idrus, M.Sc., Ph.D, menyampaikan pesan mendalam tentang moral, etika, dan kompetisi yang harus dihadapi para lulusan setelah meninggalkan kampus.
“Jadilah Influencer, Bukan Sekadar Follower” ujarnya.
Di hadapan tamu undangan, mulai dari pejabat LL Dikti IX, Pemkab Maros, hingga orang tua wisudawan, Prof. Nurul menegaskan bahwa gelar sarjana bukan hanya capaian akademik, tetapi juga beban moral.
“Secara akademik saudara/i harus menjadi sumber pencerahan, bukan hanya follower, tapi influencer. Maksud baik tidak selalu diterima, namun diremehkan pun punya nilai,” tegasnya.
Menurutnya, kerja keras seseorang sering baru terasa ketika ia sudah tidak ada. Karena itu, lulusan UMMA diminta menjaga etika moral dan tidak larut dalam euforia gelar.
_Beasiswa KIP Naik, 30 Penerima Tahun Ini Diwisuda_
Rektor turut mengapresiasi pemerintah melalui Program KIP Kuliah dan PKH yang telah membantu mahasiswa kurang mampu. Tahun ini, 30 penerima KIP turut diwisuda, sementara total penerima aktif mencapai 87 orang.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Maros, khususnya Dinas Sosial dan PKH, serta LL Dikti Wilayah IX atas dukungan berkelanjutan.
_UMMA Catat Prestasi Nasional_
Tahun 2024 menjadi momentum penting bagi UMMA. Kampus ini memenangkan berbagai hibah strategis, termasuk Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), RPL, AKPT, PDK, hingga MKWK.
Selain itu, LPPM UMMA meraih peringkat pertama Hibah PKM Cluster Madya terbanyak se-LL Dikti Wilayah IX dan meraih predikat Cluster Berbintang Madya.
Tidak hanya itu, Kepala Biro Sistem Informasi UMMA masuk 10 Besar nasional dari 650 perguruan tinggi pada sertifikasi administrator oleh PT SEVIMA.
_Soroti Perkawinan Anak dan Gerakan Ayo Kuliah_
Prof. Nurul juga menyinggung isu sosial penting di Maros: tingginya angka perkawinan anak. UMMA bersama Pemkab Maros terus mendorong Gerakan Ayo Kuliah (GAK) sebagai upaya pencegahan.
“Maros adalah salah satu kabupaten dengan tingkat perkawinan anak tinggi. Pendidikan adalah benteng pertama,” ujarnya.
_Tantangan Perempuan Lebih Berat_
Ia memberi perhatian khusus pada alumni perempuan. Menurutnya, meski perempuan unggul dalam akademik, mereka tetap rentan mendapatkan perlakuan tidak adil di dunia kerja.
“Seringkali perempuan diposisikan sebagai second class human beings. Karena itu, alumni perempuan harus siap menghadapi tantangan tersebut,” pesan Prof. Nurul.
_Warisan Bugis-Makassar: Acca, Lempu’, Getteng, Warani_
Dalam pidatonya, Rektor UMMA juga mengingatkan nilai-nilai lokal yang harus menjadi pegangan lulusan, yakni acca (cerdas), lempu’ (jujur), getteng (tegas), dan warani (berani).
Keempat nilai itu membentuk konsep sulapa eppa, yaitu manusia ideal menurut filosofi Bugis-Makassar.
_Pesan Penutup: Mulailah Menjadi Hebat_
Menutup pidatonya, Prof. Nurul menegaskan bahwa menjadi alumni bukan berarti hubungan dengan kampus selesai.
“Kalian tidak perlu hebat untuk memulai sesuatu, tapi kalian harus memulai untuk menjadi hebat. Jadilah somebody, bukan nobody.” ungkapnya.
Ia berharap lulusan UMMA mampu menjaga rekam jejak moral, menjunjung standar keunggulan, dan membawa nama UMMA ke tengah masyarakat sebagai agen perubahan. (*)
Comment