Lereng Curam Bulusaraung Hingga Hujan dan Angin Kencang Hambat Proses Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500

LENSA, PANGKEP – Hujan deras disertai angin kencang sejak subuh hingga sore hari, Selasa (20/1/2026), menjadi salah satu faktor terhambatnya proses pencarian dan evakuasi korban Pesawat ATR 42-500 di sekitar lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Cuaca ekstrem ini membuat pergerakan tim SAR gabungan sangat terbatas. Selain hujan dan angin kencang, kabut tebal yang menyelimuti kawasan tersebut menyebabkan jarak pandang sangat pendek.

Apalagi, medan di kawasan Gunung Bulusaraung dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi. Lereng yang curam mengharuskan tim penyelamat memiliki keahlian khusus untuk dapat melintasinya dengan aman. Gunung Bulusaraung sendiri berada dalam kawasan taman nasional dengan topografi relief tinggi, lereng terjal, serta tekstur permukaan tanah yang kasar.

Jenis tanah di kawasan tersebut didominasi humitropepts, yang umumnya ditemukan di daerah berlereng terjal dan puncak bukit kapur. Gunung dengan ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini cukup populer bagi kalangan pendaki dan pencinta alam, utama di Sulawesi Selatan.

Setiap akhir pekan, banyak pendaki naik untuk menikmati panorama puncak, meski diapit jurang terjal di sisi kiri dan kanan. Untuk wilayah lerengnya, tutupan vegetasi masih sangat terjaga dengan pepohonan lebat, sementara di sekitar puncak hanya ditumbuhi ilalang dan pohon pendek setinggi satu hingga dua meter.

Budiman (37), salah satu relawan yang terlibat dalam operasi SAR pencarian korban pesawat ini mengungkapkan kondisi cuaca buruk sudah terjadi sejak malam hari. 

Ia bersama beberapa tim SAR lainnya sehari sebelumnya memutuskan untuk menginap di pos 9 Gunung Bulusaraung dengan pertimbangan kondisi fisik serta medan.

“Jam setengah dua subuh sampai pagi badai, malah sampai sekarang kayaknya. Hujan sama angin kencang, kabut,” kata Budiman saat tiba di Posko AJU, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Selasa sore.

Dengan pakaian yang masih penuh tanah, Budiman menceritakan beratnya perjalanan yang ia lalui bersama tim SAR gabungan. Ia merupakan salah satu anggota SAR yang turun langsung dalam proses pencarian hingga berhasil menemukan satu jenazah perempuan yang tersangkut di batang pohon pada tebing curam.

Menurutnya, kondisi jalur sangat ekstrem membuat para relawan atau tim SAR harus mengandalkan tali sebagai alat utama untuk menjangkau titik-titik yang diduga terdapat korban.

“Susah sekali jalurnya, ditambah licin karena hujan terus,” ungkap Budiman.

Lokasi ditemukannya korban sangat jarang dijamah manusia. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki bahkan awalnya ditemukan warga pencari madu hutan yang kerap beraktivitas di kawasan tersebut. Medan yang sulit membuat proses evakuasi berjalan lamban dan memakan waktu hingga tiga hari sejak korban pertama kali ditemukan, Minggu (18/1/2026) siang.

Sementara itu, jenazah perempuan yang ditemukan pada Senin (19/1/2026) siang hingga kini masih berada di lereng gunung karena kendala cuaca dan kedalaman jurang.

“Ini karena sudah kita sampaikan, posisi korban itu di lereng sedalam 400 meter. Penarikan saja sampai dengan tadi lagi, tinggal seratus meter (sampai puncak Gunung Bulusaraung),” ujar Danrem 141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan.

“Masih tinggi cukup tinggi, tapi kita masih berupaya semua tim evakuasi yang ada berusaha sekuat mungkin bisa sampai ke puncak,” lanjutnya.

Meski cuaca ekstrem terus terjadi, Andre memastikan seluruh personel tetap memaksimalkan upaya evakuasi terhadap korban yang telah ditemukan.

“Karena kesulitan yang ada masih tetap terus (dievakuasi). Kita ketahui bersama sampai sore, dari pagi cuaca ini terjadi hujan yang cukup deras,” jelasnya. (*)

Comment