LENSA, WAJO – Diare akut di Kabupaten Wajo mencapai 352 kasus sepanjang tahun 2026.
Diare akut adalah kondisi ketika seseorang buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer atau berair, yang berlangsung secara mendadak dalam kurun waktu kurang dari 14 hari dilansir dari alodokter.com
Angka tersebut berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo, awal bulan Oktober.
Kasus diare akut tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan se Kabupaten Wajo.
RSUD Lamaddukelleng jumlah tertinggi dengan 58 kasus.
Lalu, Puskesmas Sabbangparu sebanyak 29 kasus.
Sementara Puskesmas Tempe dan Puskesmas Lempa masing-masing 24 kasus.
Selanjutnya, RS Hikmah sebanyak 20 kasus, Puskesmas Tanasitolo 18 kasus, Wewangrewu 15 kasus, Salewangeng dan Majauleng masing-masing 13 kasus serta Pammana 12 kasus.
Kemudian, Puskesmas Pattirosompe, Tosora, Keera dan Takkalalla masing-masing mencatat 11 kasus, sedangkan Puskesmas Maniangpajo sebanyak 10 kasus.
Kasus di bawah 10 tercatat di Puskesmas Salobulo sebanyak 9 kasus, Belawa 8 kasus, Solo 8 kasus dan RSUD Siwa 8 kasus.
Puskesmas Sajoanging 7 kasus, Penrang 7 kasus, Pitumpanua 6 kasus, Liu 6 kasus, Parigi 5 kasus, RS Prima 4 kasus, Gilireng 3 kasus, dan Sappa 1 kasus.
Meski begitu, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) tidak mencatat kasus diare akut pada periode ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo, drg Armin menyebut diare dapat menyerang berbagai kelompok usia, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Olehnya, upaya pencegahan perlu terus diperkuat melalui edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.
“Puskesmas maksimalkan penyuluhan ke masyarakat untuk mencegah diare,” ujar drg Armin Minggu (18/10/2026).
Tak lupa, ia menghimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dengan membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir serta memastikan konsumsi air yang cukup.
Menurutnya, asupan air juga penting untuk membantu mencegah dehidrasi, terutama ketika seseorang mengalami diare.
“Terkait tingginya angka kasus di RSUD Lamaddukelleng, perlu dilihat dalam konteks fungsi rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan rujukan,” ucapnya.
Dengan demikian, jumlah kasus yang tercatat di suatu fasilitas kesehatan tidak serta-merta menggambarkan tingkat kejadian diare di masyarakat secara keseluruhan.
“Kasus ini dipengaruhi oleh pola rujukan serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Masyarakat tetap diihmbau meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, memastikan ketersediaan air bersih, serta menerapkan PHBS di rumah maupun lingkungan sekitar. (*)
Comment