JAKARTA — Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menghadiri acara buka puasa bersama yang digelar Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan bertema “Bersatu di Bulan Suci Ramadhan Wujudkan Asta Cita” tersebut dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa dan tokoh organisasi.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (LTSI) Hamdan Zoelva, Ketua Umum PB SEMMI Bintang Wahyu Saputra, serta Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia yang juga Ketua Harian DPP Gerakan Tani Syarikat Islam (GERTASI) Andi Yuslim Patawari (AYP).
Dalam kesempatan itu, Andi Yuslim Patawari menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Kapolri dalam kegiatan yang melibatkan kalangan mahasiswa tersebut.
“Kapolri merupakan sosok yang humanis dan peduli terhadap aktivis sebagai mitra strategis untuk menjaga situasi yang kondusif. Tentu hal ini patut kita apresiasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan rasa syukurnya dapat bersilaturahmi dengan keluarga besar PB SEMMI serta berbagai elemen mahasiswa di momentum bulan suci Ramadan.
“Ini adalah momentum dan kesempatan luar biasa yang harus kita syukuri. Saya mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa dan mewakili institusi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin,” kata Sigit.
Suasana semakin cair ketika Kapolri menyinggung kedekatannya dengan dunia aktivis. Ia mengaku senang bertemu mahasiswa karena dalam menjalankan tugas, Polri harus mampu berkomunikasi dengan seluruh elemen masyarakat.
Bahkan, Jenderal Sigit sempat berseloroh mengenai rencananya setelah pensiun dari institusi Polri.
“Betul kata Pak Hamdan, orang tua kita, bahwa saya sudah bertemu banyak aktivis. Rencana setelah pensiun saya mau jadi aktivis. Jadi saya kira bergurunya sudah cukup banyaklah, mulai dari mengajak diskusi sampai saya didemo pun sudah sering,” kelakarnya yang disambut tawa para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa. Menurutnya, mahasiswa sebagai generasi penerus memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan negara di tengah berbagai tantangan global.
Ia menyinggung sejarah Indonesia yang pernah dijajah karena mudah dipecah belah, sehingga persatuan harus terus dijaga, terlebih di tengah dinamika global yang tidak menentu, termasuk dampak konflik Timur Tengah.
“Boleh kita berbeda-beda dalam pikiran dan pendapat, namun ada satu hal yang harus kita jaga, sampai batas mana kita tetap harus menjaga persatuan untuk negara tercinta,” tegasnya.
Kapolri juga menyoroti momentum bonus demografi pada 2030–2035 yang dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melompat menjadi negara maju.
“Jangan sampai momentum ini lewat karena kita terpecah belah,” ujarnya.
Terkait peran Polri, Jenderal Sigit menegaskan bahwa institusinya terus berupaya menjadi lebih humanis dalam melayani masyarakat serta menghargai ruang berekspresi yang merupakan amanat reformasi.
“Kita memiliki paradigma baru, dari yang tadinya menjaga menjadi melayani. Itu adalah tugas kita semua, khususnya jajaran Polri, untuk terus melaksanakan amanah tersebut,” tutupnya. (*)
Comment