LENSA, MAKASSAR – Pengawasan terhadap proyek infrastruktur kembali menjadi perhatian DPRD Sulawesi Selatan. Saat melakukan inspeksi lapangan di proyek perbaikan Jalan Hertasning, Selasa (03/03/2026), Komisi D menemukan sejumlah hal yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, mulai dari aspek teknis pekerjaan hingga kesiapan pihak pelaksana menjelaskan detail proyek.
Ketua Komisi D DPRD Sulsel, Kadir Halid, mengungkapkan bahwa proyek peningkatan Jalan Hertasning sepanjang 1,8 kilometer tersebut belum sepenuhnya menunjukkan standar pelaksanaan yang diharapkan. Bahkan, ketika anggota dewan meminta penjelasan langsung di lokasi, pihak manajemen konstruksi (MK) dinilai tidak mampu memberikan keterangan teknis secara rinci.
“Anggota tadi sudah bertanya langsung di lapangan, termasuk soal campuran dan teknis lainnya, namun mereka tidak bisa menjelaskan. Artinya ini menunjukkan ketidakprofesionalan dalam bekerja. Seharusnya mereka memahami tugas dan tanggung jawabnya,” tegas Kadir.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda pengawasan Komisi D terhadap enam paket pekerjaan jalan di Sulawesi Selatan. Jalan Hertasning menjadi salah satu titik yang ditinjau guna memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai perencanaan dan standar teknis yang telah ditetapkan.
Selain menyoroti kesiapan pihak pelaksana proyek, dewan juga memberi perhatian pada kualitas hasil pekerjaan, khususnya ketebalan lapisan aspal yang disebut telah selesai dikerjakan. Komisi D mempertanyakan apakah ketebalan aspal benar telah mencapai empat sentimeter sebagaimana spesifikasi proyek.
“Kita akan ukur kembali, benar tidak ini sesuai perencanaan. Kalau memang sudah bagus, tetap harus diaspal secara maksimal agar kualitasnya terjamin,” ujarnya.
Di sisi lain, Komisi D juga menilai perlunya evaluasi terkait prioritas pembangunan jalan. Menurut Kadir, masih ada ruas jalan yang kondisinya lebih rusak namun belum menjadi fokus perbaikan.
“Harusnya jalan yang betul-betul rusak parah itu yang lebih dulu diprioritaskan. Ini akan menjadi bahan evaluasi kita,” tambahnya.
Proyek peningkatan jalan tersebut diketahui merupakan bagian dari paket pekerjaan yang saling terhubung, mencakup Jalan Hertasning, Aroepala, Yasin Limpo, Bu’rung-bu’rung, Bili-bili hingga jalur yang berlanjut ke Malino, Sinjai dan Bulukumba.
“Kami akan terus melakukan pengawasan menyeluruh terhadap seluruh paket pekerjaan guna memastikan kualitas infrastruktur sesuai standar dan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Anggota Komisi D DPRD Sulsel, Muhammad Sadar, menambahkan bahwa kualitas aspal tidak dapat dipastikan hanya dengan pengamatan visual. Ia menilai pengujian teknis menggunakan alat khusus perlu dilakukan untuk memastikan hasil pekerjaan.
“Kalau mau kita lihat hasilnya, ada alat core. Dari tadi saya minta alatnya, tidak ada,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Nihaya, menjelaskan bahwa pekerjaan di Jalan Hertasning dilakukan dengan satu lapisan aspal setebal empat sentimeter dan saat ini masih dalam tahap pengujian.
“Mengenai tebal 4 cm ini tentu dilakukan pengukuran dengan alat core drill. Pada saat dihampar, sudah dikendalikan agar saat dipadatkan memenuhi 4 cm,” paparnya.
Ia juga memastikan proses penghamparan telah mengikuti ketentuan teknis yang berlaku, termasuk komposisi material yang digunakan.
“Penghamparannya sudah mengikuti aturan dan spesifikasi. Gradasinya sudah sesuai, dan sekarang sudah tahap pengujian,” tandasnya. (*)
Comment