Anak Grup Perusahaan Japfa Dituding Lakukan Praktik Monopoli Pasar

LENSA, MAKASSAR — Sejumlah demonstran yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Sulsel melakukan demonstrasi di depan gerbang perumahan Royal Spring, Gowa, pada Rabu (11/2/2026). 

Mereka menuntut agar anak perusahaan Group Japfa, yaitu PT Ciomas Adisatwa Cabang Gowa untuk melakukan pertanggung jawaban atas bisnis yang dijalankan. 

Pemimpin demonstrasi, Denny Abiyoga Gosel, menyatakan, aksi unjuk rasa yang digelar merupakan tuntutan atas mosi tidak percaya yang dilakukan oleh oknum perusahaan. 

Mereka menuding, ada praktik monopoli pasar yang tengah dijalankan oleh PT Ciomas Adisatwa, dalam hal pengadaan ayam boiler.

“Kami melakukan aksi demonstrasi atas mosi tidak percaya terhadap perusahaan besar, Japfa Group, yang punya anak perusahaan PT Ciomas Adisatwa. Mereka melakukan pembohongan publik kepada kami, mereka sebenarnya telah melanggar Pasal 33 UUD 1945 dan UU nomor tahun 1999 tentang praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat,” tutur Gosel yang diwawancarai di lokasi aksi. 

Ia menjelaskan, dugaannya ini berawal dari laporan warga, terkait UMKM yang berupaya melakukan suplai bahan baku ke PT Ciomas Adisatwa. Namun, kata Gosel, dihalangi oleh seorang pegawai. Padahal, lanjutnya, UMKM tersebut telah mengajukan sesuai dengan prosedur pada umumnya. 

“Semua yang ingin menjadi mitra dibatasi hanya karena ingin menjaga oknum tertentu dan menjaga kestabilan pasar mereka (oknum). Ini kami datang ke sini malah dibohongi lagi, katanya ada PT Bakul, kalau ada mitra yang mau masuk harus minta izin, doa, dan restu dengan mitra-mitra yang lain,” sesal Gosel.

Lebih jauh, Gosel menduga, ada praktik semacam gratifikasi atau suap pada oknum perusahaan, agar pengajuan kerja sama UMKM bisa diloloskan. 

“Saya sangat menghormati asas praduga tak bersalah, tetapi ada indikasi ‘maccu’ ini barang, ada main mata oknum mafia yang berkedok sales. Dia ini hanya menjaga kepentingan orang-orang tertentu demi meraup keuntungan,” ungkapnya.

Makanya, Gosel meminta kepada induk perusahaan, agar melakukan evaluasi internal secara independen. Hal ini, lanjutnya, demi menjaga ekosistem pasar yang bersih dan bebas monopoli.

Selain itu, pada demonstran juga menyayangkan, kantor perusahaan yang terletak di sebuah perumahan eksklusif. Hal itu membuat mereka tidak bisa melayangkan tuntutan secara langsung kepada pihak perusahaan.

“Mereka sengaja menyewa kantor di perumahan elit untuk sembunyi, menjadikan security sebagai tameng. Setelah ini kami akan konsolidasi ulang, membangun kekuatan yang lebih besar, karena hari ini kami hanya diperhadapkan dengan pihak security,” tutur demonstran lainnya, Yoga

.Salah satu pihak keamanan, Hidayat menyampaikan, pihaknya sangat terbuka dengan hal-hal seperti ini. Tidak ada upaya menghalangi yang dilakukan, sebab mereka hanya menjalankan tugas.

“Kami terbuka saja dengan hal-hal seperti ini, kami menerima dan kami menghargai kebebasan berpendapat. Jadi kami di sini hanya menjalankan tugas saja,” ungkapnya. (*)

Comment