LENSA, MAKASSAR – Jenazah Florencia Lolita Wibisono (33), pramugari pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, diserahkan ke pihak keluarganya, Rabu (21/1/2026) siang.
Penyerahan ini berlangsung di Biddokkes Polda Sulsel di belakang Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Jalan Kumala, Kota Makassar.
“Mengucap syukur atas apa yang telah dikerjakan bagi kami, sehingga adik kami bisa ditemukan,” ungkap Felix, kakak kandung Florencia.
Rencananya sore ini akan diterbangkan menuju Jakarta sesuai permintaan pihak keluarga. Felix mewakili keluarga besarnya menyampaikan terimakasih kepada seluruh tim SAR gabungan yang telah berhasil menemukan korban.
Ia berharap, korban-korban lain yang satu pesawat dengan Florencia bisa segera ditemukan.
“Kami terus berdoa untuk yang lain juga, dikasih kekuatan juga sama seperti kami. Dan juga bisa segera ditemukan sehingga kita semua kembali ke tempat kami masing-masing membawa balik saudara dan kerabat kami yang ada,” ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, mayat perempuan korban pesawat ATR 42-500 yang ditemukan tim SAR gabungan pada Senin (19/1/2026) siang, di tepi curam lereng Gunung Bulusaraung berhasil diidentifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan.
Dari pemeriksaan yang dilakukan tim DVI terungkap indentitas korban atas nama Florencia Lolita Wibisono, usia 33 tahun yang merupakan pramugari pada pesawat ATR 42-500.
“Jenazah dengan nomor postmortem 62B.01 cocok dengan antemortem nomor AM004 teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono jenis kelamin perempuan, umur 33 tahun dengan alamat apartemen Wak Tower A unit 216 Buleleng, Jakarta Timur,” kata Kabid Dokkes Polda Sulsel, dr Muh Haris pada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Haris menjelaskan, jenazah korban ini tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada Selasa (20/1/2026) malam, dan langsung menjalani proses identifikasi oleh tim DVI gabungan.
Tim DVI yang melakukan identifikasi korban terdiri dari tim DVI Bidokkes Polda Sulsel, Tim DVI Pusdokes Polri, Tim IDEN Polda Sulsel, Tim Pusiden Polri, dan Departemen Forensik dan Medikologal Fakultas Kedokteran Unhas.
Mereka melakukan pencocokan medis jenazah melalui identifikasi sidik jari dan data gigi. Dari situlah terungkap identitas korban.
“Melalui sidik jari, data gigi, properti dan ciri medis,” terangnya.
Sementara itu, Kapusident Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi manyampaikan bahwa jenazah masih dalam keadaan baik sehingga sidik jarinya masih terbaca dan mudah untuk membaca identitasnya.
“Jenazah masuk dalam keadaan bagus, sehingga untuk papiler yang ada di sidik jari masih bisa terbaca, sehingga kami sudah langsung mengambil sidik jarinya,” ungkap Mashudi.
“Kemudian dengan alat peralatan kami miliki bisa langsung membaca identitas yang bersangkutan,” lanjutannya.
Ia pun menyampaikan, dengan kerja sama tim DVI gabungan dalam mengidentifikasi korban mereka sangat yakin bahwa korban merupakan Florencia Lolita Wibisono, pramugari dari pesawat ATR 42-500.
“Kami yakin seyakin-yakinnya, berdasarkan keilmuan,” tegasnya. (*)
Comment